SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA (^_^)

Selamat Berpetualang dengan Postingan Saya :)

Rabu, 06 Juli 2011

Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi dan Kerendah-hatian Beliau

Kisah ini terjadi pada suatu masa dimana salah satu ulama paling berpengaruh di Jakarta, Alhabib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi bermukim. Pada suatu hari disaat Habib sedang sakit demam tinggi, datanglah seorang tamu biasa ke rumahnya di daerah Bungur, Jakarta Pusat. “Assalamualaikum, yaa Habib..”, tamu itu mengetuk pintu sambil menyalami empunya rumah dengan nada terburu-buru. “Waalaikumussalam..”, istri Habib Ali yang membukakan pintu. “Ada apa gerangan wahai tamu engkau datang kesini?”, ujar istri Habib Ali. “Begini, wahai istri Habib Ali, saya kesini untuk meminta Habib Ali untuk mengisi tausyiah pada hajat keluarga saya. Dikarenakan ustadz yang telah saya undang berhalangan hadir untuk mengisi tausyiah. Oleh karena itu saya ingin meminta habib untuk menggantikannya.”, begitulah penjelasan sang tamu. “Maaf, wahai tamu. Habib sedang sakit demam, beliau tidak bisa keluar rumah. Kondisinya tidak memungkinkan”, istrinya menjelaskan kondisi Habib Ali dengan nada dongkol. Tak disangka, habib Ali mendengar percakapan antara istrinya dengan si tamu. Kemudian Habib keluar dan berkata kepada si tamu, “Jam berapa hajatmu itu? Insya Allah saya akan hadir pada hajatmu.”. “Terima kasih wahai habib.” ucap tamu itu. Kemudian sang tamu kembali ke rumahnya.

Beginilah contoh akhlakul karimah (akhlak terpuji) dari Habib Ali, disaat ia sedang sakit, ia tidak mempermasalahkan siapa orang yang datang ke rumahnya, serta ia bersedia memenuhi hajat orang tersebut untuk mengisi tausyiah di rumah tamu itu.

Si empunya hajat (tamu yang tadi datang ke rumah habib Ali) menunggu kedatangan sang Habib. Ketika habib Ali datang, ia mendapati rumah empunya hajat tidaklah  bagus. Sebuah rumah sederhana di daerah Senen, yang tidak lebih rumah itu hanya terbuat dari kayu dan papan, serta langit-langitnya yang rendah sehingga jika kita menjulurkan tangan kita sampailah kita kepada langit-langitnya. Namun Habib Ali tidak mempermasalahkan hal itu. Ia pun mengikuti acara dan mengisi tausyiah saat itu.

Di akahir acara, sang Habib menerima ramah tamah daru sang empunya hajat. “Yaa Habib, kami tidak mempunyai apa-apa kecuali hidangan yang sederhana ini.” Makanan seadanya pun disediakan kepada Haabib, tak seberapa, hanya nasi, sambal, dan belut. Belut? ya.. Memang makanan ini tidak pernah dimakan oleh Habib. Namun, beliau tidak langsung menolak makanan yang telah disuguhkan. Ia tetap memakan makanan yang disediakan. Beliaupun berkata,”Saya suka dengan belut. Enak sekali !”.

Tak disangka, setelah acara selesai, sang tamu pun memberikan satu ember yang berisi belut kepada Habib Ali, karena sang tamu mengetahi bahwa Habib sangat suka dengan belut.

Yaa Allah, mungkin jika bukan kehendakMu, seseorang seperti Habib tidak akan berbuat seperti ini. Tawaddu’, yaitu salah satu sifat Rasulullah SAW. Tawaddu’ disebut juga rendah hati. Sifat ini memang sangat sulit dilakukan karena banyak manusia yang merasa dirinya lebih baik daripada manusia lainnya. Sehingga orang tidak bisa renndah hati di depan orang lain, berlebih apabila orang di depannya mempunyai derajat yang lebih rendah.

Habib Ali sudah membuktikannya, walaupun beliau sosok yang disegani, namun beliau tetap  rendah hati. Beliau tidak merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar